Ruben Amorim Taktisi Muda di Balik Kebangkitan Sporting dan Potensi di Manchester United

Manchester United, dalam gerak cepat pasca pemecatan Erik ten Hag, kini menyoroti satu nama yang mencuat: Ruben Amorim. Pelatih berusia 39 tahun dari Sporting Lisbon ini bukan nama baru di bursa transfer. Musim lalu, ia sempat santer diisukan menjadi incaran klub-klub Premier League, terutama West Ham yang mencari pengganti David Moyes. Amorim bahkan sempat terbang ke London untuk bertemu perwakilan West Ham, sebuah langkah yang sempat menimbulkan polemik di kalangan penggemar dan diakui sebagai kesalahan olehnya.
Kejadian tersebut mengisyaratkan satu hal: Amorim memiliki tendensi untuk “meloncat” dari klub yang berhasil ia angkat derajatnya. Mengapa demikian? Mari kita telusuri perjalanan kariernya.
Melesatnya Karier Amorim dan Transformasi Sporting Lisbon
Sebelum kedatangan Amorim, Sporting Lisbon berada dalam bayang-bayang dominasi Benfica dan Porto selama hampir dua dekade. Namun, di musim penuh pertamanya, Amorim membawa kejutan besar. Ia berhasil memutus dominasi dua raksasa Portugal itu dan mempersembahkan gelar juara liga pada tahun 2021. Kelas Sporting terangkat, kembali menjadi tim besar yang sejajar dengan Benfica dan Porto. Konsistensinya pun terbukti saat ia kembali membawa Sporting meraih gelar liga musim lalu, ditambah dengan dua gelar piala liga.
Karier kepelatihan Ruben Amorim memang tergolong sangat singkat namun meroket. Dimulai pada Juli 2018 di klub divisi 3 Portugal, Casa Pia, ia langsung menarik perhatian. Pada tahun 2019, ia sudah berada di klub divisi 1, Braga, meskipun masih melatih tim B. Hanya tiga bulan berselang, pelatih dengan penampilan kasual ini langsung dipercaya menangani tim utama Braga pada Januari 2020. Di sana, ia mencatatkan 10 kemenangan, 2 kekalahan, dan 1 imbang dalam waktu singkat.
Tidak butuh waktu lama bagi Sporting untuk membajaknya. Hanya tiga bulan setelah debutnya di tim utama Braga, tepatnya pada Maret, Sporting rela menggelontorkan 10 juta Euro untuk menebus sisa kontraknya. Dampak instan pun terasa. Di musim pertamanya secara penuh, ia langsung mempersembahkan gelar juara yang telah lama dinanti Sporting selama 19 tahun. Kemampuan adaptasi instan inilah yang kemungkinan besar menjadi daya tarik utama bagi Manchester United.
Formasi dan Fleksibilitas Taktik: Kunci Sukses Ruben Amorim
Sejak melatih Braga, formasi andalan Ruben Amorim adalah tiga center-back, yaitu 3-4-3 atau 3-4-2-1. Formasi ini terdiri dari tiga center-back, dua gelandang box-to-box (seperti Hjulmand dan Morita), wing-back yang menjaga lebar lapangan (seperti Kendal, Catamo, Santos, dan Araujo), dua attacking midfielder (Trincao dan Pote), serta seorang striker tipikal nomor 9, Victor Gyökeres.
Ada yang menarik dari formasi tiga bek ini, terutama saat build-up dari goal kick. Center-back tengah akan naik seperti gelandang atau central midfielder, sementara dua center-back lainnya akan berada di samping kiper. Wing-back tetap melebar di sayap, dan satu central midfielder cenderung lebih maju sejajar dengan satu attacking midfielder yang turun. Shape tiga bek ini pun bisa terlihat seperti 4-2-2-2 dengan tambahan kiper di belakang. Tujuannya? Memecah pressing lawan, menambah pemain di tengah, dan mendorong gelandang lebih ke depan.
Namun, jika lawan tidak melakukan pressing saat goal kick, build-up shape ini akan berubah menjadi 3-2-5. Tiga center-back kembali sejajar, dua gelandang di tengah menopang dua attacking midfielder dan striker, sementara wing-back menjaga lebar di sayap.
Dua Wajah Sporting di Bawah Amorim: Possession dan Serangan Langsung
Gaya bermain Sporting di bawah Amorim memiliki dua sisi yang berlawanan. Di satu sisi, mereka adalah tim yang paling banyak melakukan build-up pendek dengan 10 sentuhan lebih. Namun, di sisi lain, Amorim juga tidak jarang melakukan serangan langsung yang diarahkan ke depan.
Kehadiran Victor Gyökeres, striker bertipe target man, memberikan variasi pada permainan Sporting. Gyökeres cakap dalam duel dan mampu mengeksekusi umpan langsung dengan baik dan efektif. Musim lalu, ia menjadi top skor klub dengan 29 gol, dan musim ini sudah mencetak 12 gol di liga. Ini menunjukkan bagaimana Amorim berhasil mengawinkan permainan direct dan possession. Mereka bukanlah tim yang hanya mengandalkan long pass seperti tim Inggris tradisional. Sporting mampu bermain possession yang tinggi, bahkan musim lalu menduduki peringkat ketiga di antara klub-klub dengan possession tertinggi di liga mereka. Ini tentu menjadi kabar baik bagi Manchester United yang saat ini masih kesulitan dalam permainan penguasaan bola.
Amorim juga melatih timnya untuk melakukan rotasi posisi dan kombinasi umpan satu-dua sentuhan secara cepat dan vertikal. Mereka bisa mengurung pertahanan lawan dan membongkarnya dengan pergerakan lini depan yang cair. Contohnya, Morita yang berposisi gelandang bisa berada di depan untuk membongkar pertahanan, bahkan Inácio yang berposisi center-back pun naik hingga ke pertahanan lawan. Ini menunjukkan fluiditas dan fleksibilitas taktik Amorim.
Pertahanan dengan ‘Pentagon Press’ dan Tantangan di Manchester United
Dalam aspek bertahan, Amorim menggunakan ‘Pentagon Press’ atau segilima press. Formasi ini akan bergerak mengikuti arah serangan lawan. Garis pertahanan Sporting juga relatif tinggi, meskipun bermain dengan lima bek di back line, mereka menjadi tim dengan garis pertahanan tinggi di lima liga top Eropa.
Tentu saja, formasi tiga bek ini akan terasa asing di Manchester United. Tantangan Ruben Amorim di MU tidak hanya soal taktik, tetapi juga kemampuan manajemennya akan diuji. Ia akan melatih nama-nama besar dengan ego yang mungkin lebih besar. Akankah ia berhasil? Kita nantikan kiprah awalnya di Old Trafford.
Bagaimana menurut Anda, apakah Ruben Amorim adalah sosok yang tepat untuk membawa Manchester United kembali ke puncak? Bagikan pendapat Anda di kolom komentar!






